Bijak Menyikapi Kesenangan Duniawi

Apa saja yang dianugrahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kita saat ini tiada lain hanyalah kesenangan duniawi saja. Begitulah Dia menyatakan dalam kitab-Nya. ( fama utitum min syai'in fa mata'ul hatid dunya ). Maka aneka macam makanan dan minuman bergizi yang masuk ke dalam lambung, ragam pakaian yang dikenakan, rumah yang jadi tempat peristirahatan,berbagai jenis kendaraan dan segala fasilitas hidup manusia lainnya, itu semua merupakan kenikmatan dan kesenangan duniawi bagi manusia di alam ini,sifatnya sementara dan bukan untuk selamanya. Oleh karenanya hendaknya setiap kita bersikap wajar dalam mempergunakannya dan memanfaatkannya tidak melampaui batas-batas yang digariskan oleh-nya.

Sebenarnya bagi orang-orang yang beriman dengan keimanan yang benar kepada Allah 'Azza wa Jalla ada harapan besar di sisi-Nya, yaitu kenikmatan ukhrawi yang nilainya lebih baik serta lebih kekal abadi, yaitu kenikmatan dan kesenangan ukhrawi yang insya Allah kelak akan dijumpai setelah melewati gerbang kematian, gerbang yang memisahkan dua alam, alam dunia dan alam akhirat. Itu pula yang dijelaskan oleh Allah Jalla wa 'Ala dalam firman-Nya.( wama 'indallahi khaiun wa abqa lilladzina amanu )

Maka dari itu, seyogianya bagi setiap insan beriman dapat menyikapi kenikmatan dan karunia Allah yang dianugrahkan kepadanya secara bijak, dalam arti memanfaatkannya secara proporsional dan benar tanpa berlebih-lebihan sehingga ia memperoleh keridhaan-Nya dalam berbagai hal. Keridhaan yang dapat menghantarkannya ke dalam surga Firdaus yang diperuntukkan bagi orang-orang beriman.

Kenikmatan yang diperoleh setiap orang di dunia ini tidaklah sama, ada yang berlimpah, ada pula yang sedikit. Namun sebenarnya bagi orang-orang beriman, seberapa  pun kadar kenikmatan dan karunia tersebut hendaknya diterima dengan penuh ketulusan, keikhlasan disertai rasa syukur kepada-Nya baik dalam bentuk ucapan 'alhamdulillah' maupun perbuatan mulia sebagai wujud kongkrit dari kesyukuran tersebut. Dengan demikian niscaya dia akan menuai keberkahan dan nilai kebaikan yang banyak daripada-Nya.

Bertawakal kepada Allah Raabul 'alamin dalam menjalani kehidupan di dunia menuju negeri akhirat adalah diantara modal kesuksesan orang-orang yang beriman. Yakni tawakal yang disertai dengan upaya dan kerja nyata, bukan tawakkal dalam arti duduk bersimpuh, berpangku tangan tiada usaha diselimuti kemalasan. Hal itu dilakukan karena kita sadar bahwa pemilik segala yang ada di dunia dan di akhirat kelak adalah Allah Jalla wa 'Ala bukan yang lain.( wa 'ala robbihim yatawakkalun ).

Setiap kita orang-orang beriman hendaknya bersikap bijak dalam menyikapi pemberian Allah untuk kita, memanfaatkan dan mempergunakannya secara baik dan benar, berupaya agar menyesuaikan dengan apa yang dikehendaki oleh-Nya, dan berusaha menjauhi dari penyimpangan-penyimpangan yang berakibat buruknya nilai kemanusiaan kita di hadapan-Nya. Semoga Allah tidak hanya memberi kesenangan duniawi yang bersifat sementara saja, akan tetapi besar harapan Dia melimpahkan kesenangan ukhrawi yang abadi dan nilainya lebih baik itu kelak.

Maha benar Allah Tuhan Semesta ketika berfirman untuk kita sekalian dalam al-Qur'an, yang artinya: "Apa pun (kenikmatan) yang diberikan kepadamumaka itu adalah kesenangan hidup di dunia. sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal." Q.S. asy-Syura:36

Jakarta, 11 Oktober 2012
Nandar Sunandar

0 Response to "Bijak Menyikapi Kesenangan Duniawi"

Posting Komentar