Manusia bermula dari tidak ada lalu Allah mencipta, maka
terlahirlah ia ke dunia dengan perantaraan kedua orang tua kecuali Adam AS dan
isterinya Hawa manusia pertama dicipta langsung dari tanah liat tanpa
perantaraan ayah-ibu serta Isa AS yang dicipta tanpa perantaraan ayah.
Manusia terlahir ke dunia dalam keadaan tidak tahu apa-apa dan
tidak bisa apa-apa. Ia hidup dan tumbuh berkembang berkat belas kasihan orang
lain yang ada disekitarnya (kedua orang tua atau siapapun yang merawatnya). Lalu
mereka mengajarinya sedikit demi sedikit bagaimana ia melangkah, berucap, dan
bergaul dengan sesama.
Lamanya masa perjalanan hidup manusia di dunia berbeda satu sama
lainnya, tergantung jatah umur yang diberikan Allah untuknya. Ada yang hingga
berabad-abad lamanya menapaki hamparan bumi Allah seperti nabi Nuh AS yang
berumur 950 tahun. Ada pula yang hidup hanya beberapa sesaat saja, setelah
dilahirkan lalu Allah mengambilnya kembali ke hadapan-Nya.
Namun rata-rata umur manusia yang hidup di akhir zaman hanya
puluhan tahun saja, 40 tahun, 50 tahun, 60 tahun, atau sedikit lebih lama dari
itu. Ia dapat melakukan apa saja di dunia ini untuk kesenangan dirinya, anak
dan isterinya, handai tolannya, dan siapapun orang di sekelilingnya. Namun ia
musti ingat, bahwa di balik kehidupan ini ada sistem Allah yang mengatur
tatanan kehidupan di bumi tempat ia berpijak, dan bahkan mengatur tatanan
kehidupan di seluruh planet yang ada di alam jagat raya, sistem yang hebat itu
mampu menciptakan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan gerak masing-masing
yang terlihat begitu indah.
Sesuatu yang bermula akan berakhir. Begitupun perjalanan hidup
manusia, bermula saat terlahir ke dunia dan berakhir saat batas usia (ajal)
menjemputnya. Ketika ajal itu tiba tidak akan ada tawar
menawar barang sedetik pun. Ia diseting tepat waktu oleh-Nya tidak bisa
ditangguhkan ataupun didahulukan.
Pada dasarnya hidup manusia di dunia ini tak lain hanyalah sebuah
perjalanan (journey), perjalanan suci yang penuh arti. Lalu ke manakah
perjalanan itu berarah? Tentu pertanyaan tersebut musti dijawab dengan tepat
dan jelas. Ketepatan dan kejelasan jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan
nasib manusia sekaligus menuntun manusia menemukan tujuan hidup yang sebenarnya.
Tujuan hidup yang dikehendaki oleh Sang Pencipta Allah ‘Azza wa Jalla.
Hendaknya manusia mengarahkan perjalanannya menuju Allah Yang Maha
Pencipta bukan ke arah lainnya. Memang sebenarnya tidak ada arah lainnya, semua
perjalanan menuju kepada-Nya, disadari ataupun tidak. Akhir dari perjalanan
hidup manusia adalah kampung akhirat yang kekal nan abadi.
Lalu apa yang musti dilakukan dalam perjalanan tersebut supaya
berakhir dengan selamat. Di sinilah terasa betapa besar kasih sayang Allah
terhadap manusia ciptaan-Nya yang spesial. Diutuslah utusan-utusan (Rusul)-Nya
di muka bumi. Utusan-utusan itu bertugas menjelaskan hakikat hidup manusia dan
menuntun mereka ke jalan-Nya, memberi kabar gembira dan memberi peringatan.
Mereka pun dibekali dengan Kitab pedoman (wahyu) yang berlaku sesuai dengan
masanya.
Semua manusia menempuh perjalanan menuju Sang Pencipta. Namun
tidak semua manusia mengerti arah perjalanan menuju-Nya. Hanya mereka yang mau
mengambil Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunah Rasul-Nya sebagai pegangan hidup
yang akan menemukan arah perjalanan itu. Semua berharap termasuk orang yang
berhasil menemukan arah itu dan bertemu dengan wajah-Nya kelak di dalam
surga-Nya. Semoga.
Salam sukses dari pecinta kebenaran.
Jakarta,
07 April 2013
*Artikel ini saya tulis di kompasiana.

0 Response to "Hendak Kemana Kau Pergi?"
Posting Komentar